Mengurai Problematika Gender Bersama Sekawan Imade
![]() |
| DOK. Medinfo Uin Walisongo Semarang |
Sekawan (Sedulur Kajian dan Wacana) kembali menggelar diskusi rutinan pada Selasa,7 Oktober 2025. Diskusi kali ini mengusung tema "Studi Gender : Problematika Struktur Sosial Budaya dari Perspektif Gender," sebuah isu yang sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dipandu oleh Laili Putri sebagai moderator, diskusi ini menghadirkan dua pemateri: Kharisma Eka Maulida dan Aulia Amalia Haqiqi.
Seperti yang kita tahu dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering menyaksikan bagaimana laki-laki dan perempuan ditempatkan secara berbeda, yang kerap kali memicu ketimpangan. Struktur sosial dan budaya yang telah mengakar kuat sering kali membentuk pandangan yang kaku tentang peran ideal bagi setiap gender. Akibatnya, muncul berbagai persoalan ketidakadilan, seperti dalam akses pendidikan, pekerjaan, dan ruang publik.
Diskusi pada sore hari itu berfokus pada upaya menelaah bagaimana struktur sosial dan budaya berperan dalam membentuk ketimpangan gender, serta bagaimana perspektif gender dapat membantu memahami dan menjadi solusi terhadap problematika tersebut.
Pemateri pertama, Kharisma Eka Maulida, memulai pemaparan dengan membahas struktur sosial.
Struktur sosial adalah tatanan keseluruhan dari unsur-unsur sosial, yang mencakup norma, lembaga sosial, status, wewenang, dan kebudayaan. Ia menjelaskan pentingnya memahami struktur sosial sebelum membahas budaya dan gender, karena struktur sosial menjadi bekal untuk memahami problematika kebudayaan dalam masyarakat.
Struktur itu terbentuk ketika ada masyarakat, maka struktur sosial secara otomatis akan terbentuk. Dengan adanya struktur sosial, kita dapat mengetahui adanya perbedaan kelas, status, dan peran dalam masyarakat, yang nantinya memengaruhi cara individu bertindak. Struktur sosial juga berfungsi sebagai pengatur sosial.
Pemateri kedua, Aulia Amalia Haqiqi, melanjutkan diskusi dengan memaparkan Perspektif Gender dalam bingkai Budaya.
Aulia menekankan perlunya membedakan antara Seks dan Gender bukanlah hal yang sama.
- Seks merupakan ciri khas biologis yang tidak dapat diubah, melekat pada kodrat sejak lahir.
- Gender adalah perbedaan peran yang tampak antara laki-laki dan perempuan, gender bersifat konstruktif dan bisa diubah.
Contoh paling jelas adalah tugas seperti mencuci, memasak, atau menyapu. Tugas-tugas ini bukanlah kodrat mutlak, melainkan peran yang dikonstruksi oleh budaya.
Aulia juga menegaskan bahwa pembicaraan mengenai gender bukan semata-mata upaya perempuan untuk menyaingi laki-laki, melainkan upaya untuk mengatasi fakta bahwa ada satu golongan yang tertindas.
Muh. Rifky Adi A turut memperkaya diskusi dengan menyoroti peran kontrak sosial dalam mengkonstruksi definisi gender, serta bagaimana peran-peran tersebut dapat berubah melalui satu gelombang zaman ke zaman lainnya.
Ia menyoroti tokoh Gayatri C. Spivak pemikir feminis postkolonial dengan karyanya, Can the Subaltern Speak?. Esai tersebut menjadi awal mula kajian mengenai hak bersuara bagi mereka yang tersingkirkan. Mengenai bagaimana seorang perempuan yang suaminya meninggal ditempatkan sebagai individu terpinggirkan. Inti dari esai ini adalah "Apakah kaum perempuan (yang tertindas) punya hak berbicara?"
Hal ini dikaitkan dengan realitas kasus- kasus yang ada di sekitar kita, salah satunya di mana praktik perjodohan sudah terjadi bahkan sebelum seseorang lulus SMA, yang menunjukkan kuatnya kendali struktur sosial dan budaya terhadap kebebasan individu, terutama perempuan.
Laili Putri, selaku moderator, menutup sesi diskusi dengan merangkum poin-poin penting. Ia menyimpulkan bahwa seks dan gender itu berbeda ia juga menegaskan bahwa ketimpangan gender adalah hasil dari konstruksi struktur sosial dan budaya.
Penulis : Dina Dhiya



Komentar
Posting Komentar