Bedah Buku " Bumi Manusia" Diskusi Sekawan Imade UIN Walisongo


                        
Dok.IMADE Uin Walisongo


Rabu (30/04/2025), Sekawan (Sedulur kajian dan wacana) Imade UIN Walisongo menggelar bedah buku karya Pramoedya Ananta Toer, "Bumi Manusia". Ahmad Kasyif sebagai pemateri dan pembedah , menyoroti mengenai isu-isu sosial yang diangkat dalam novel tersebut.

Ia membuka diskusi dengan memaparkan latar belakang waktu yang menjadi pijakan cerita, yakni akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada periode ini, Hindia Belanda masih berada dalam kekuasaan kolonial Eropa, di mana dominasi ekonomi, budaya, dan politik sepenuhnya berada di tangan Belanda. Kekuatan narasi buku tersebut semakin terasa ketika pembaca mengikuti perjalanan Minke, tokoh utama yang namanya berasal dari bahasa Inggris untuk "monyet," sebuah representasi penghinaan kaum kolonial terhadap pribumi.

Dalam buku tersebut, Pramoedya mencoba menjelaskan kondisi dan realitas masyarakat Hindia Belanda melalui tiga isu krusial: 
- Diskriminasi ras
- Penindasan hukum, 
-       Perjuangan kelas.

 Isu diskriminasi ras tergambar jelas sejak awal novel yaitu pada adegan di mana Minke mengalami perlakuan diskriminatif, bahkan hingga adanya restoran bagi orang Belanda asli yang tertutup bagi pribumi. perasaan yang ditanamkan oleh kolonialisme begitu mendalam hingga pribumi merasa tidak percaya diri dan segan berinteraksi dengan orang Belanda. 

Pembahasan mengenai penindasan hukum di representasikan melalui Kisah Annelies, istri Minke, dan ibunya Nyai Ontosoroh seorang wanita pribumi yang dijadikan gundik oleh seorang Belanda kaya, setelah ayahnya meninggal, Herman Mellema, keluarga Belanda datang untuk merebut hak waris. Bahkan pengadilan memutuskan untuk mencabut hak Annelies atas warisan bahkan memerintahkan agar ia dibawa ke Belanda oleh istri sah Herman Mellema.  Kisah tersebut jelas menunjukkan bahwa hukum kolonial Belanda adalah alat yang merugikan pribumi. Hukum yang dibawa oleh kolonial bukanlah keadilan untuk semua orang, melainkan cara untuk membenarkan kekuasaan mereka sendiri.

Perjuangan kelas juga dapat dilihat dari tindakan Minke. Dengan kemampuannya menulis yang hebat dan bekerja sama dengan surat kabar. Ia menulis artikel tentang dirinya dan Annelies, serta ketidakadilan yang mereka alami. Dampak dari tulisan Minke ini meluas, banyak pribumi yang tersentuh hatinya dan menyadari betapa rendahnya mereka dipandang oleh Belanda. Hal itu mendorong orang-orang pribumi lainnya untuk bertindak bersama dengan mendatangi rumah Nyai Ontosoroh sebagai bentuk dukungan.

Empat krisis yang dialami oleh tokoh utama Minke:

1. Krisis Identitas: Orang Belanda punya pandangan yang sangat buruk terhadap pribumi. Minke merasakan kebingungan tentang dirinya sendiri karena perlakuan ini.
2. Krisis Sosial dan Kelas: Ada ketidaksetaraan besar antara orang Belanda dan pribumi dalam masyarakat.
3. Krisis Moral dan Budaya: Perbedaan nilai dan kebiasaan antara pribumi dan Belanda seperti contoh hal tersebut mirip dengan bagaimana pengaruh dunia saat ini (globalisasi) yang bisa mengubah atau menghilangkan tradisi lokal.
4. Krisis Hukum dan Keadilan: Kasus yang menimpa Minke dan Annelies, hingga berujung pada kematian Annelies akibat depresi setelah dipisahkan secara paksa, adalah gambaran jelas betapa buruk dan tidak adilnya hukum kolonial.

 Pengalaman Minke bersekolah di HBS (Hogere Burgerschool), sebuah sekolah bergengsi untuk orang Eropa. Awalnya, Minke berharap dapat setara dengan orang tuanya, namun kurikulum ala Barat justru membuatnya merasa terasing. Ia merasa dirinya sudah hebat karena apa yang sudah ia pelajari di sekolah tersebut melebihi warga pribumi. Ketika dihadapkan pada pilihan kehilangan hak Annelies karena hukum kolonial, Minke menyadari apa yang sudah ia pelajari sangat bertolak belakang. Menjadi terpelajar tidak berarti harus  sombong dan melupakan akarnya sebagai seorang pribumi.

Hal tersebut sangat relevan bagi kita, termasuk ketika kita belajar di Semarang. Jangan sampai ilmu yang kita peroleh membuat kita merasa lebih tinggi dari masyarakat sekitar. Tujuan kita belajar seharusnya adalah untuk kembali dan berkontribusi bagi kepentingan masyarakat kita sendiri. Kita datang, kita belajar, dan kelak akan kembali membawa ilmu yang kita pelajari untuk kemajuan daerah, tanpa melupakan dari mana kita berasal.




Reporter : Siti Aniqotussolehah 
Penulis :   Dina Dhiya




Komentar

Postingan Populer