IMADE UIN Walisongo Bedah Wawancara Presiden Prabowo : Refleksi Moral Standing dan Sikap Mahasiswa" (series dua diskusi Kajian dan Wacana)
![]() |
| DOK. Medinfo Imade Uin Walisongo |
Diskusi ini dilatarbelakangi kesadaran pengurus IMADE Walisongo dalam mengkritisi isu-isu aktual yang penting untuk diketahui bersama, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan sikap kritis di kalangan mahasiswa Demak.
Fokus diskusi ini adalah video wawancara berdurasi 3,5 jam antara Presiden Prabowo Subianto dengan enam jurnalis terkemuka Indonesia yang ditayangkan pada Minggu (6/04/25) di Hambalang, Jawa Barat. Jurnalis yang hadir antara lain Alfito Deannova Ginting (Pemred Detikcom), Lalu Mara Satriawangsa (Pemred TV One), Uni Lubis (Pemred IDN Times), Najwa Shihab (Founder Narasi), Sutta Dharmasaputra (Pemred Harian Kompas), dan Retno Pinasti (Pemred SCTV-Indosiar), dengan Velarina Daniel sebagai moderator mewakili TVRI Nasional.
Diskusi ini mengulas berbagai topik yang dibahas dalam wawancara tersebut, seperti program makan siang gratis, pembukaan pasar IHSG, pembuatan rancangan UU, kepemimpinan, dan perampasan aset koruptor. Selain itu, juga mempertanyakan aspek transparansi wawancara dan independensi media arus utama yang terlibat.
"Kita perlu mengkritisi apakah format wawancara tersebut benar-benar memberikan ruang bagi transparansi pemerintah atau sekadar agenda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Perlu dipertanyakan juga independensi media-media besar yang terlibat, mengingat signifikansi pengaruh mereka terhadap opini publik," ujar pemateri
Muh. Rifky Adi dalam paparannya menekankan pentingnya sikap kritis mahasiswa dalam menyikapi isu-isu terkini dengan mengedepankan moral standing mereka sebagai kaum intelektual.
"Sebagai seorang mahasiswa, kita tidak boleh memihak rezim apa pun resikonya. Moral standing dan moral force kita harus berdiri di antara rakyat. Semua kepentingan yang mendukung rezim tanpa sikap kritis harus kita tolak. Kita memiliki kekuatan intelektual, independensi, dan sumber daya untuk mengkritisi kebijakan pemerintah." tegasnya. Ia juga memaparkan pentingnya analisis wacana kritis dalam memahami fenomena politik kontemporer.
Menurut Rifky, mahasiswa perlu memahami relasi kuasa yang tersirat dalam komunikasi politik, termasuk bagaimana informasi diproduksi, dan dikonsumsi oleh masyarakat.
"Setiap narasi politik memiliki kepentingan tersembunyi. Tugas kita sebagai mahasiswa adalah membongkar kepentingan tersebut dan memberi pencerahan kepada masyarakat luas," jelasnya.
Dedi Gunawan selaku Koordinator Kajian dan Wacana IMADE UIN Walisongo Semarang juga menyampaikan harapannya agar diskusi ini dapat menjadi pendorong kesadaran mahasiswa.
"Harapan saya, setelah adanya diskusi ini, mahasiswa Demak lebih melek terhadap isu-isu baru yang ada di negeri ini, khususnya di Kabupaten Demak. Kita perlu mengembangkan tradisi diskusi yang berkelanjutan untuk membangun kesadaran politik yang kritis dan konstruktif," tuturnya.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat posisi mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial dalam masyarakat.
Reporter : Siti Aniqotussolehah
Penulis : Siti Aniqotussolehah



Komentar
Posting Komentar