Kula Ngapunten Melalui Kue Apem

Setiap menjelang tanggal 15 pada bulan Sya’ban, masyarakat desa tempat saya lahir berbondong-bondong menggilingkan beras untuk dijadikan tepung beras yang nantinya akan dibuat adonan kue apem. Tradisi tersebut sudah berlangsung lama di tempat kami. Tepatnya di desa Jali, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah. Bukan tanpa alasan, mereka—terutama yang sepuh—menganggap kue Apem yang terbuat dari gilingan beras akan lebih sedep ketimbang menggunakan tepung yang sudah jadi dari pabrik.

Kue apem yang dibuat akan dijadikan berkatan—makanan yang dimakan secara bersama-sama setelah pembacaan do’a-do’a khusus—oleh masyarakat. Sebagai tanda memperingati malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam ke-15 bulan Sya’ban.

Bulan Sya’ban sendiri merupakan bulan kalender Hijriyah yang sekarang ini bertepatan di bulan Maret menurut perhitungan Masehi. Artinya pada bulan depan sudah memasuki bulan Ramadhan. Orang Muslim mempercayai pada bulan Sya’ban adalah bulan di mana malaikat pencatat amal baik dan amal buruk akan menyerahkan buku amal ke Sang Pencipta.

Hal tersebut berkaitan dengan tradisi masyarakat Jawa yang membuat kue apem pada peringatan malam Nisfu Sya’ban. Dilansir dari laman Kompas.com, istilah apem merujuk pada kata ‘afuan, afwan, affan, afuwwun dalam bahasa Arab berarti ampunan atau pengampun. Oleh masyarakat disederhanakan menjadi kata ‘apem’.

Masyarakat Jawa menjadikan kue apem sebagai simbol permintaan maaf kepada sesama sebelum di serahkannya buku amal ibadah oleh malaikat  selama setahun yang lalu kepada Sang Pencipta. Serta dijadikan untuk membersihkan diri sebelum menuju bulan Ramadhan. 

Pada ritual malam Nisfu Sya’ban, semua orang berbondong-bondong menuju Masjid untuk berdo’a. Dalam hal ini, pemangku Agama yang dipimpin oleh Kyai membacakan surat Yasin sebanyak 3 kali. Pembacaan surat Yasin yang pertama dimohonkan untuk panjang umur dan ketakwaan kepada Allah SWT. Pembacaan surat Yasin yang ke-2 dimohonkan untuk diluaskan rizeki yang halal dan dihundarkan dari tolak balak –dihindarkan dari mara bahaya dan segala macam penyakit. Sedangkan pembacaan surat Yasin yang ke-3 dimohonkan untuk ditetapkan Iman hingga hari akhir. 

Penulis : Risma Alfiani

Layout  : Agung Izzul Haq

Komentar

Postingan Populer