DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN SOSIAL BAGI KESEJAHTERAAN PETANI DI MASA PANDEMI

 

oleh : Ahmad Mustagfirin Ansor

OPINI - Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampak dari pandemi COVID-19, penyakit Covid-19 merupakan suatu virus menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut corona virus 2 (SARS-CoV-2), Situasi dan kondisi serta aktivitas masyarakat Indonesia semenjak adanya virus corona (covid-19) sangat mem prihatinkan, baik dari sektor formal dan non formal tidak terkecuali sektor pertanian, sektor pertanian menjadi suatu prioritas dalam menangani ketahanan dalam meng hadapi pandemic, Pada saat ini sektor pertanian dalam menjaga ketahanan pangan merupakan hal yang sangat krusial demi menjaga keberlangsungan hidup seluruh manusia

Kebijakan pemerintah membuat Pem berlakuan pembatasan social, karantina, dan pembatasan perjalanan guna untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19, akan tetapi kebijakan tersebut juga dapat membawa dampak pada produktifitas hasil pertanian, ketahanan pangan sama penting nya dalam menghadapi pandemic ini sama halnya dengan relawan Kesehatan apabila mereka sebagai tantara dalam menghadapi pandemic maka petani sebagai penyuluh dan insan untuk menjaga keberlangsungan pangan.

Indonesia adalah negara yang dikenal dan dijuluki sebagai negara penghasil sumber daya alam yang begitu melimpah, sumber daya alam yang sering dilirik oleh berbagai negara lain yaitu dari segi hasil pertaniannya. Tapi, saat ini dunia diserang oleh suatu virus mematikan khususnya di Indonesia, virus ini dikenal dengan nama covid-19. Hadirnya virus ini membuat para petani harus mengatur strategi bagaimana jalannya agar proses pertanian tidak terhalang oleh virus ini.

Sejak adanya wabah beberapa hasil pertanian masyarakat mengalami anjlok harga dan membuat banyak para petani resah karena penghasilan yang di dapatkan dari hasil pertaniannya sangat kecil bahkan tidak mendapat keuntungan (kembali modal) Badan Pusat Statistik (BPS) melapor kan pada Juli 2021 mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional turun 0,11% dibandingkan NTP Juni 2021. Angka ini mengalami penurunan dari 103,59 menjadi 103,48. Penurunan tersebut disebabkan adanya pertumbuhan NTP (Nilai Tukar Petani) atau kesejahteraan petani tidak sebanding dengan pertumbuhan PDB sektor pertanian di sebabkan oleh meningkatnya biaya produksi. Termasuk biaya produksi dan penambahan barang modal, kenaikan tertinggi terjadi pada upah buruh sebesar 1,32 persen. Bibit sebesar 1,05 persen, pupuk sebesar 1,05 persen. Padahal ketiga komponen tersebut merupakan biaya pokok utama dalam produksi pertanian.

Hal tersebut disebabkan karena pada masa pandemi ini daya beli masyarakat menurun dan berdampak pada permintaan pasar. Kemudian terganggunya produksi produk petani apalagi dengan adanya PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dan PPKM tidak bisa melakukan pengiriman dan pengambilan produk pertanian dikarenakan semuanya dibatasi mempengaruhi kualitas kesegaran produk pertanian yang berakibat pada penurunan harga komoditas pertanian di sejumlah wilayah di Indonesia. Adanya pandemi covid-19 menjadikan para petani takut keluar rumah untuk bekerja mereka khawatir terkena virus covid-19 karena di pertanian bisa dikatakan pekerjaan petani berkelompok, dimana kondisi tersebut merupakan kerentanan penularan covid-19 karena berkerumunan.

Kondisi tesebut sangat di rasakan Sukarnadi, petani asal brebes, jawa tengah, akibat PPKM, hasil panen sayurnya mengalami kerugian 80 persen, hal itu dikarenakan adanya penyekatan pada akses jalan ke pasar induk sehingga membuat minat para tengkulak atau pengepul cabai, terong dan sayuran lainnya, menurun drastis. Tak hanya itu kasmir petani asal Bandung mengatakan harga tomat dan cabai turun hingga 50 persen. Tomat yang biasanya dijual Rp10.000 per kilogram, kini hanya dihargai Rp5.000. Begitu juga cabai keriting yang biasanya dijual Rp15.000 per kilogram sekarang turun menjadi Rp8.000.

Melihat kondisi banyaknya wilayah dan banyak petani yang merasakan dampak dari pandemi, situasi ini akan membahayakan ketersediaan pangan Indonesia. Padahal, pasokan pangan yang baik saat pandemi ini penting untuk menjaga kesehatan dan imunitas tubuh. Maka Diharapkan agar pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih berperan untuk membantu petani dalam menjalankan usaha tani dan meningkatkan pendapatan petani. Hal ini dapat dilakukan dengan memperketat pengawasan terhadap segala bentuk bantuan yang diberikan kepada petani. Adanya pendampingan atau kontrol dalam pendistribusian bantuan bertujuan agar bantuan yang disalurkan oleh pemerintah kepada petani efektif yaitu tepat sasaran, lokasi dan sesuai porsinya.  Diberikan bantuan berupa pupuk subsidi selama masa Pandemi. Dengan gitu petani dapat meningkatkan kualitas dan produksi dengan baik.

Yang tidak boleh dilupakan dalam menjaga ketahanan pangan selama pandemi covid-19 ialah memastikan petani kita tetap sehat, sejahtera, dan semangat agar tetap terus berproduksi.Kedaulatan pangan akan sulit diwujudkan jika petani sebagai pelaku utama usaha tani tidak sejahtera

Komentar

Postingan Populer