Senja yang Tertunda
Writer: Zanik Hanifah
Sore ini ku tak berjumpa dengan senja. Ia bersembunyi dibalik mendung, atau mendung yang sengaja menutupi sinarnya dari pandangku. Begitu juga dua bola mataku yang tak berhasil menemukan wajahmu. Ternyata, Tempatlah memisahkan jarak, Tuan!.
Antara aku dan engkau, terbentang dari puluhan kilometer bahkan ratus kilometer jarak. Meski begitu, aku tak memaknainya sebagai perpisahan. Karena ada dan ketiadaanmu yang tak ku tahu, tapi kau akan hadir dalam hidupku. Bukan sekedar bersinggah atau menepi, tetapi akan menjadi rumah dan nafasku.
Sore ini aku tak bersua dengan merpati. Ia bersembunyi di balik sarang, atau Tuhan yang sengaja membungkam sarang dari pandangku. Begitu juga dua bola mataku yang sehari bahkan bertahun tak berhasil menatapmu terbalut sarung dan peci. Ternyata, magrib kali ini aku tak berimam, Tuan!
Antara sujudku dan sujudmu, terjeda lebih dari setengah menit detak. Meski begitu, aku tak memaknainya sebagai kesengajaan. Karena dalam waktu dan jarak, kau tetap mengingang di ilusi atau halusinasi, tetapi ini ketetapan-Nya.
Ada jarak yang memberi kesempatan kepada rindu untuk bersemi. Meski sebenarnya aku tak mengetahui persinggahanmu yang masih dalam bayang-bayang.
Senja dan jarak mendewasakanku. Bahwa bersama tidak selamanya temu. Tapi diantara jarak itu, tahajudku dan tahajudmu, dhuhaku dan dhuhamu, tetap terlaksana bersama sang waktu. Aku menghadap-Nya sendiri, begitu pun kau menghadap-Nya sendiri.
Senja dan jarak juga telah mengingatkan ku. Bahwa dalam temu atau pisah, dekat atau jauh. Senja harus tetap datang. Duka harus suka, lelah harus kuat. Jangan biarkan jarak jadi terpuluruk diri. Kita harus tetap yakin tentang pertemuan. Minimal dengan do'a kala menghadap-Nya. Dalam do'a itulah kita saling menyapa. Meski nyatanya jarak berada diantara kita.
Setelah sore tak bersenja dan merpati berterbangan, tinggal angin yang masih setia menyejukan, sebagaimana kamu yang masih dalam rahasia.
Setelah jarak benar-benar memisahkan, masih terniang satu hal dari telinga yaitu 'ketetapan', yang membuat diriku kembali menyakini-Mu.
Hei, Tuan! Senja kini telah datang. Tetapi Tuan, kapan kau akan datang?.
Semarang, 25 Februari 2020


Mantavvvv
BalasHapus