Aslam dan Primordialisme
Sudah sejak empat semester aslam duduk dibangku perkuliahan. Menenteng tas kecil berisikan binder, bolpoin, cas, dan satu buku bacaan kecil miliknya. Dengan berjalan menaiki sepeda motor butut milik ayahnya menuju ke kampus. Kehidupan kampus ia jalani dengan sangat pragmatis. Datang, duduk, diam, menunggu presensi kehadiran kelas dan mendengarkan ceramah Dosen sampai mata kuliah selesai. Setelah itu ia pulang ketempat kos atau kontrakan untuk kembali beristirahat di ranjang yang ia anggap sebagai kekasih bayangan.
Keseharian itu ia jalani tanpa pernah berfikir bagaimana masa depannya nanti. Bahkan tidak lupa ketika diwaktu senggang ia sering menghabiskan waktunya untuk bermain game Playstation (PS), bermain ke tempat destinasi wisata yang mahal, dan menghabiskan biaya makan selama satu bulan yang telah diberi oleh orang tuanya untuk mentraktir teman-temannya. Kehidupan hedonis ini ia jalani dengan penuh keyakinan bahwa tuhan sudah mengatur kelancaran rezekinya tanpa ada kendala apapun.
Satu pagi, Aslam yang hendak pergi ke kampus mendapati masalah dengan motor bututnya. Sehingga terpaksa ia pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Dengan tergesah-gesah ia pun sampai di Ruang kelasnya, dimana saat itu ia harus presentasi didepan teman-temannya. Perkuliahan selesai. Aslam pergi ke kantin untuk beristirahat dan makan. Sambil menengok kanan dan kiri, pandangannya mulai terfokus ke arah taman, ia melihat beberapa mahasiswa tengah berkumpul. Bercakap-cakap, saling menanggapi antara pembicaraan satu dengan yang lain. Barangkali itu adalah salah satu forum diskusi dari organisasi yang ada di kampusnya. Ia tahu karena setelah perkuliahan selesai, lebih tepatnya waktu sore akan ada forum-forum kecil di sekitar taman dan juga halaman-halaman lainnya yang cukup luas untuk tempat diskusi.
Ia merenungi, apa yang mereka lakukan? Untuk apa mereka berkumpul terus dan terus setiap sorenya? Pertanyaan itu ia bawa sampai ke tempat kos. Belum sampai di kos an, sekitar sepuluh meter jaraknya dari gerbang kampus, ia mendapati seorang bapak-bapak tua yang berjualan makanan di samping trotoar. Terketuk hati ia membeli makanan itu meski tidak seberapa besar nominalnya, dan seberapa enak makanan itu sendiri. Sesampainya ditempat kos, ia begitu resah. Sehingga kontemplasi yang sedemikian rupa itu membuatnya sadar, bahwa mungkin orang tuanya yang ada dirumah dalam mencari biaya untuk dirinya menempuh pendidikan di Perguruan tinggi sangatlah amat berat. Lebih berat dari tugas yang diberikan oleh Dosen, dan lebih berat dari apa yang dinamakan berjalan kaki menuju ke kampus. Tidak semua teman-teman yang ada di Kampungnya mampu melanjutkan pendidikan di Perguruan tinggi karena faktor ekonomi. Sebagai agen perubahan, ia tahu bahwa kelak dirinya akan pulang untuk membangun dan mengembangkan masyarakat yang ada di sekitar, terutama di tanah kelahirannya.
Terlintas dalam benaknya, ia pun mengikuti organisasi agar kelak dirinya mampu membahagiakan kedua orang tua serta mampu membawa manfaat untuk masyarakat luas. Meyakini bahwa dengan berorganisasi pengetahuannya akan semakin tajam, relasinya bertambah dan pola afektifnya dapat terimplementasikan. Segenap usaha dan sejengkal harapan ia lakukan, mencari sumber pengetahuan dari lain tempat dan lain organisasi. Tekatnya yang kuat itu ia jadikan pandangan hidup sampai kelak ia lulus dari perguruan tinggi. “Belajar, belajar, belajar dan terus belajar. Lalu pulanglah karena orang-orang disekitarmu menantikan pengabdianmu”.



Komentar
Posting Komentar