Rajiv Zakky dengan Segala Dimensinya
Selama berprorses di organisasi kedaerahan Imade Walisongo, mungkin terlalu singkat jika menceritakan secara komprehensif dalam secarik tulisan ini. Terlalu banyak pengalaman dan pelajaran yang tertuang dalam badan yang kosong tanpa isi. Dari sekian pengalaman tersebut, hanya ada satu yang tak bisa terkikis dalam pikiran, mungkin sampai akhir hayat, yaitu sosok ketua terkece sepanjang masa sejak Imade dilahirkan dari rahim induknya.
Bicara tentang organisasi tidak bisa dilepaskan dari pemimpinya. Mungkin sebagian orang menyebut bahwa organisasi itu tergantung siapa yang memimpinya. Bagi saya pun tidak semestinya begitu. Bisa saja tesis seperti itu berlaku pada suatu waktu tetapi tidak berlaku pada selain waktu.
Artinya tesis tersebut bersifat dinamis dalam penggunaanya. Bahkan kadang-kadang tesis tersebut menjadi alternatif yang paling solutif bagi organisasi yang sedang berada dalam ambang batas degradasi SDM. Sungguh memang tega dan kurang ajar orang yang menganggapnya demikian. Semoga tidak terjadi dalam diri Imade.
Namun perlu diketahui, ini hanya sebuah tesis tanpa sitasi dan tanpa dasar, dan aku pun tidak menuntut kalian untuk percaya pada tesis ini. Sungguh gila jika aku menyuruh kalian untuk percaya, sedangkan indraku sendiri menolak untuk mempercayainya.
Ada yang menarik dalam diri Imade, yaitu ketua periode 2018-2019. Kalau tidak salah namanya Rajiv Zakky Maula, ketua Imade Walisongo yang baru beberapa bulan lengser dari tampuk kepemimpinan region, dan baru saja kemarin 15 maret 2020 terpilih secara demokratis menduduki puncak klasemen Rais Syuriah jabatan tertinggi PB Imade Nusantara. Jabatan yang diperebutkan banyak orang, bukan berebut untuk menolak, tapi memang benar-benar diperebutkan oleh banyak orang. Bahkan sainganya pun dari kampus-kampus se-nusantara. Tentu kampus-kampus yang sudah terstruktur kepengurusan Imade di dalamnya.
Saya lupa kapan berkenalan dengan anak yang entah mempunyai saudara atau tidak ini. Yang saya tahu dia itu berjenis kelamin laki-laki, dilahirkan di Demak dan di besarkan di Demak pula. Pun saya juga kurang tau berapa jumlah perempuan yang pernah digaetnya, sebab setiap kali berpapasan denganya dia selalu membonceng dengan perempuan yang setiap harinya entah berapa tak bisa dihitung dengan jari. Bahkan dalam keadaan waras, pun saya tidak bisa memastikan hal apa saja yang dilakukanya sehingga dia hampir saja menyetarai Presiden Pertama RI perihal perempuan dan tidak sedikit perihal kepemimpinan.
Dalam interaksi denganya itu, setidaknya saya mampu membaca karakter dasar yang dimilikinya dari berbagai dimensi, tentu dengan kacamata subjektif saya sendiri. Dimensi yang melekat dan membalut tubuhnya itu, setidaknya saya menemukan beberapa ruang : Ia sebagai pemimpin saya dalam organisasi, Ia sebagai teman sekelas, Ia sebagai boy*, dan Ia sebagai Rajiv Zakky saja.
Sejak bergabung dengan Imade 2016 silam, saya merasakan tiga roda kepemimpinan yang dipimpin oleh sosok-sosok yang luar biasa (Mas Lutfi, Mas Eko, dan sosok yang kita bahas ini). Perbedaan pola dan gaya adalah hal wajar dalam teori leadership, semua itu salah satunya tergantung dan menyesuaikan pada kondisi, zaman dan tantangan yang dihadapi. Bicara membangun organisasi berarti berbicara membangun dan membangunkan orang-orang yang menetap dan tidur di dalamnya.
Sebagai seorang nahkoda yang bertugas mengomando kapalnya kemana saja hendak berlayar, dia selalu memotori kader-kadernya agar tetap menjadi kompor dalam organisasi. Kompor disini bukanlah kompor-komporan yang terafiliasi profokasi dan berujung pada pergulatan sosial oleh sang profokator. Kompor disini adalah semangat membara yang ditanamkan agar menjadi kader yang aktif konstruktif, bukan kader yang pasif destruktif.
Kemudian saya mengenalnya sebagai pemimpin dalam organisasi. Menjadi ketua adalah jabatan tertinggi dalam struktur kepengurusan, sekaligus sebagai seneor bagi adik-adiknya. Walaupun secara struktural ia sebagai ketua dan seneor bagi adik-adiknya, dia tidak pernah sekalipun bertindak diluar kendali secara otoriter.
Sebagai seneor, Ia tidak pernah meletakkan gengsi dalam bergaul bersama kadernya atau adik-adiknya, pun tidak pernah menunjukkan sikap seneoritas dengan segala relasi kuasanya. Dalam mendidik kadernya pun tidak pernah pandang bulu asal nomor disave dan kelihatan gerak-geriknya dalam kegiatan, pasti kondisi dan aktivitas kadernya selalu ia tanya dan pantau. Ya walaupun dalam keadaan waras, akal bisa menebak bahwa itu hanyalah sebuah kedok sekaligus strategi jitu yang Ia gunakan demi keberlangsungan sifat boy*nya.
Dalam kehidupan sosialnya, dia selalu menanamkan rasa woles dalam segala situasi. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk tidak woles pada beberapa situasi yang lain. Sebab tidak jarang dijumpai dia selalu pusing pada beberapa hal, bahkan satu hal saja dia sudah pusing tujuh keliling. Namun dibalik kepusinganya itu, dia selalu bisa menyelipkan unsur lawakan yang bikin perut berontak minta isi. Sehingga seakan-akan pusing yang dideritanya hanya sebuah lelucon yang sangat pantas untuk ditertawakan.
Begitupun dalam menjalani hidup, dia selalu berpegang teguh untuk tidak terlalu serius mengurusi kehidupan dunia termasuk memperhatikan penampilan, mode fashion dll. Bahkan tidak jarang dijumpai rambutnya selalu tak beraturan, ngecrang sana ngecrang sini.
Sekilas pernyataan tersebut tampak sufistik di telinga orang awam. Namun bagi saya sendiri, memang betul dia sangat sufistik dalam menjalani kehidupan, tetapi sufistik yang melekat pada dirinya itu tidak selalu muncul dalam perawakanya setiap hari. Jika ditaksir, mungkin sesuai resep minum obat anjuran dokter (tiga kali sehari), tapi ini sebaliknya (satu kali tiga hari). Itu hanya perkiraan.
Sekali lagi, aku tidak menyuruh kalian untuk mempercayainya, sungguh gila jika aku menyuruh kalian untuk percaya, sedangkan indraku sendiri menolak untuk mempercayainya.
Terakhir saya mengenalnya sebagai Rajiv Zakky saja. Sosok yang memiliki nama beken “Pakde” ini mempunyai banyak sekali stok koleksi hewan-hewan yang dimuliakan dan bahkan dijadikan bahan santapan dalam sebuah pesta bernuansa klasik romawi oleh kaum rohaniawan sebelah. Maka dari itu tak jarang dijumpai jika melakukan kontak verbal denganya, secara tidak langsung, tiba-tiba dan diluar kendali tanpa komando dan tanpa aba-aba terlontarkan nama-nama koleksi hewan tersebut dari mulutnya.
Namun anehnya, orang yang melakukan kontak verbal denganya tidak merasa tersinggung atau direndahkan, selebihnya malah ikut larut dalam tertawanya. Inilah yang menjadi kelebihanya, dia mampu mengemas perkara apa saja dengan menyelipkan unsur-unsur lawakan ke dalamnya.
Dan pada akhirnya, saya pribadi mengakui bahwa saya masih kalah jauh pengalaman dibanding dia. Inilah alasan kenapa saya menjadikanya sebagai motivator. Tanpa ada sanggahan apapun, dalam menjalani kehidupan walaupun selalu menjunjung tinggi untuk tidak serius dan selalu woles terhadap segala hal, tetapi sebenarnya dia itu sangat gigih terhadap apa yang sedang dikerjakanya. Semangat yang tertanam dalam dirinya untuk merubah segala sesuatu menjadi lebih baik menjadi jimat paling ampuh yang menyokong kegigihanya. Mungkin hal itu merupakan sebagian penyebab yang membuatnya selalu menjadi yang teratas dalam suatu jabatan struktural.
Namun, sekali lagi, aku tidak menyuruh kalian untuk mempercayai ini, sungguh gila jika aku menyuruh kalian untuk percaya, sedangkan indraku sendiri menolak untuk mempercayainya.
Cukup sekian dan terima kasih.
Perlu diketahui, bahwa tulisan ini mengandung unsur ghibah yang sangat kental. Ghibah jelas dilarang dalam agama dan tidak sehat demi pri kemanusiaan. Oleh karena itu, saya menganjurkan untuk meminta keikhlasan padanya setelah membaca tulisan ini, agar kalian semua terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan.
*Secreet Admirer



Sekali lagi aku tidak menyuruh kalian mempercayai ini. (3x)
BalasHapusini sebuah kebohongan
BalasHapusIni bisa saja hanya pengalihan isu dari korona
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus'Sekali lagi, aku tidak menyuruh kalian untuk mempercayainya, sungguh gila jika aku menyuruh kalian untuk percaya, sedangkan indraku sendiri menolak untuk mempercayainya' auto ngakakðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤£
BalasHapusAyo ngakak bareng slur :v
HapusImadelisme.. Ta tunggu aksimu
BalasHapusJadi bagaimana apakah kau percaya?
BalasHapus